BOLU

Pukul 16.50 Wib, Ruang Meeting di Kantor.

DING!!
Getaran suara singkat Hp dari saku.

Udah pulang lu?

"Belum, nih lagi beresin tas mau pulang".

"Oh udah mau pulang ya?"

"Iya, nih otw parkiran. Knp?"

"Gpp, nanya aja. Hehe.. Tiati ya"

Sebuah percakapan singkat dari seorang teman baik yang asik, buat chattingan. Hehe.

Ucapku dalam batin. "Ohh nanya doang". Klik, suara lock pada hp tombol kecil sebelah kanan gue tekan, dan hp gue taro saku sebelah kiri. Tak lama ingin bergegas siap pulang, dengan mengendarai motor.

Seperti biasa dengan atribut lengkap sehari hari saat mengendarai motor, helm, jaket dan saputangan yang terikat padat ke belakang dan menutupi bagian hidung sampai mulut. Saputangan kecil pengganti masker.

Motor sudah siap nya untuk jalan, dengan suara mesin yang sudah menggebu. Tak lama, suara getar hp kembali bergetar. Suara ringtone musik Bad blod nya, Taylor Swift mengeras. Terlihat di layar. Video call dari U M I H (nyokap).

"Haddduuuuhhh.. Ngapain lagi nih".  Menggerutu komat kamit dari mulut sambil mematikan motor sejenak.

"Ya hallo, kenapa mi?" Sambil melihat situasi, kiri dan kanan.

"Mbak, tolong nanti mampir beliin umih bolu ya. Teman umi mau datang".

"Ya". Tak panjang lebar gue jawab, karena cuaca sudah mendung gelap, di sertai angin dingin yang terhempas.

"Makasih ya sayang.. Anak umih, hati hati di jalan". Suara on speaker dari hp, karena ini video call.

"Hmm.." Tambahan jawaban gue yang semakin malas. Sambil melihat kiri dan kanan situasi di parkiran kantor. Celingak dan celinguk bak orang mau maling motor Nmax tapi takut ketahuan. Posisi gue sudah dewasa begini, masih aja di bilang "sayang anak umih". Tak lama, dengan cepatnya gue tekan tombol merah, end video call. Klik.

Hp gue taro kembali di saku sebelah kiri. Dengan buru-buru nya, gue nyalain motor, dan terlintas.. Cepat pulang, cepat pulang, cepat pulang.

"Wulll.. Wull.. (panggilan gue di kantor "Wul") Cieee sayang umih hati-hati ya di jalan"

"Aissshhhh". Malu disertai kesal, ketahuan teman kantor. Gue tutup kaca helm dengan emosi, tarik gas sekencang kencang nya.

"Yoo.. Duluan Tante". Ucapan yang tak ikhlas, sambil melambaikan tangan.

Berubah dengan cepat dalam pikiran gue, bukan cepat pulang, dan terucap dalam batin. Duhhh.. Alesan apa ya? Alesan.. Alesan.. Alesan apa ya?? Besok sama si Tante. Tambah di bully deh gue di kantor.

Masalah nya gue paling muda di antara karyawan lain, maklum gue bekerja di bagian media yang cukup legend di kalangan perusahaan media cetak lainnya. Dan satu-satu nya karyawan yang berumur 20+. Karena yang lain sudah berumur 40+ dan sudah berkeluarga.

Yasudahlah ya, satu-satu nya cara gue berdoa. Semoga Tante itu, lupa atas kejadian video call bareng nyokap di parkiran.

Sekiranya 45 menit perjalanan sudah gue tempuh. Halangan demi halangan rintangan dari kejadian-kejadian di jalan raya, dari Jakarta timur ke Bekasi sudah gue lalui. Tolong jangan di tambah bully lagi, gue anak Bekasi.

M. A. C. E. T. Duhh ampun, heran kranji tuh gak pernah berubah ya.. Mesti deh, kalo lewat kranji menuju Bekasi gak jam sibuk, gak jam pulang kantor tetap MACET nya ampun-ampunan. Kebayang, ini gue balik disaat jam pulang kantor, se-Crowded apa tuh Kranji. Kayanya Margonda nya Depok tuh pindah ya ke Kranji.

Pukul 18.15 Wib, Toko Kue.

Masuk ke toko kue, jujur gue bingung bolu yang mana ya? Biar gak ketahuan gue bingung nyari kue bolu itu yang mana, gue sibuk main hp sambil melihat dibalik kaca terlihat banyak sekali macam-macam kue berbentuk panjang, bulat dan kotak, ada roti bermacam varian, kue tart dan donat.

Bingung. Mengambil waktu 10 menit gue sibuk main hp, padahal cuma geser-geser menu aplikasi di hp. Hehe. Telepon orang rumah gak diangkat. Akhirnya lah, gue memberanikan diri melangkah ke mbak di sebelah gue sedang sibuknya, menata kue tart yang tertulis dengan cream putih "Happy 1st Anniversary".

Langkah kecil dengan pikiran kebingungan, selangkah demi selangkah. "Mbak, kue bolu yang biasa buat ibu-ibu kalau mau ngumpul enaknya yang mana ya mba?" Tanya gue, kepada si mbak sebelah. Sebuah pertanyaan *pinter, tapi ngeles aje*  itu merupakan pertanyaan paling bodoh, diantara makhluk bodoh murid yang tidak naik kelas. Mungkin, gue rangking 1 dari sekian makhluk bodoh yang tidak naik kelas. Saking bodoh nya. Padahal gue gatau bolu ibu-ibu kalau ngumpul tuh yang bagaimana? Rasa apa? Ditambah dengan kesal dan emosi, orang-orang rumah di telepon tidak diangkat. Huft.

Suara cekikik pelan, terdengar dari si Mbak depan kasir. Terlihat jelas, ekspresi muka nyengir dan tebahak sekilas si mbak yang gue tanya barusan.

"Ohh.." sambil sekilas menertawai gue. "Yang ini sih kak". Sambil menunjuk, kue berbentuk bulat, berwarna hitam dengan tekstur nya yang kasar. "Ini apaan mbak? Eh maksutnya rasa apa?" tambahan pertanyaan dari gue yang asal ucap.

"Ini bolu karamel kak, kalo yang ini, bolu pisang, yang ini bolu chocolate almond, yang di atas bolu kukus, bolu rainbow. Kakak mau yang mana? ". Jawaban mbak nya, sambil menunjuk kue-kue tersebut.

"Ohh" Sambil melihat harga, yang tertulis di bawah bolu. Lagi-lagi jawaban singkat gue, yang tidak jelas. "Mmm.. Biasanya kalau buat ibu-ibu ngumpul yang mana mbak?" Pertanyaan tambahan dengan bisik kecil gue yang bodoh ini pada si mbak.

Lagi, lagi suara cekikik lebih keras kali ini, terdengar di telinga gue. Tawa kecil yang terasa lepas dan puas si mbak depan kasir. Berusaha cuek dan menahan emosi, ini salah orang-orang yang di rumah gak angkat telepon gue. Berusaha membela diri, dari ejekan mbak mbak di toko kue ini.

"Biasanya, yang ini nih kak, bolu karamel sama bolu pisang".

Jujur.. Gue pengen nya, bolu rainbow. Tapi pilihan dan rasa ibu-ibu beda. Mengingat kepalang umur sudah pada tua, takut gak suka manis, gak suka selera warna warni gitu. Cukup payah gue, dalam memilih kue, bolu atau semacam teman temannya itu buat orang banyak di kalangan ibu-ibu. Beda dengan lain hal, untuk membelikan sesuatu pada seseorang yg kita kenal. Sudah tau persis kesukaan nya pada seseorang yang kita kenal.

"Ohh. Sebentar ya mbak saya foto dulu, kasih tau orang di rumah". Sambil mengambil hp di saku kiri dan tombol camera siap gue pencet dan mengarahkan pada angel yang pas pada kue bolu karamel. Cekrek! Send pic ke cenong (panggilan adik).

Lagi, dan lagi tidak ada jawaban. Slow response. Dengan rasa tidak sabar, gue telepon adik gue. Allhamdulilah di angkat.

Menjauh diri gue dari si mbak penjaga kue itu. "HALLO NONG, CEPET CEPET MANA UMIH.. SURUH LIAT WA GUE TUH, MAU BOLU YANG MANA?" Suara super ngegas gue, sudah kepalang emosi tingkat dewa dilangit yang lagi galau.

"Lu di mana sih salim (panggilan adik ke gue) , bentar bentaaar.. Nih gue ke kamar umih"

"Gue di toko roti samping SMA 1 arah pulang.. Buru.. Buru elaaahhh" Perasaan emosi gue makin menggebu.

"Miii miii nihhh mbak nih mi.." Suara pintu terdengar jelas.

Nyokap mulai, berbicara. "Ya mbak.."
Ehh tunggu, gue berjalan makin menjauh menjauh daei si mbak itu. Dan akhirnya gue keluar pintu dari toko kue. Jaga jaga aja, takut nyokap gue ngomong yang enggak, enggak lagi. Habis deh kalau ketahuan lagi sama si mbak itu. Rapuh riwayat kedewasaan gue.

"Mi liat wa, kue nya mau yang mana?"

"Tunggu Umih liat dulu. Emmm yang bolu karamel aja deh mba 1 sama kue lapis surabaya 2."

"Hah. Kue lapis apa bolu???!!" Tanya gue, pake sewot.

"Ya bolu karamel sama lapis surabaya 2. Mbak dimana ini?"

"Ini toko kue samping SMA 1. Yaudah itu aja ya"

"Iya.. Hati-hati ya sayaaang,, Anak Umih".

"YA" sudah gue duga kan.. Pasti deh yang enggak enggak. Hmm..

Gue kembali masuk ke dalam. "Mbak ada lapis surabaya gak?"

"Adaaaa.. Kaaak. Bilang dong daeitadi lapis surabaya".

Dalam batin terucap, mulut sambil komat kamit kesal. Daritadi, kalo nyokap saya angkat telepon, saya mah cepet mbak. Gak pake nanya bolu buat ibu ibu biasa ngumpul segela. Grrr..!!

Gak sabar, ingin sudahi drama pendek, penuh emosi tingkat dewa di langit yang sedang galau, gue pesan dengan suara lantang nan tegas. "Mbak! Lapis Surabaya dua , bolu karamel nya satu ! ".

"Bolu pisang nya, gak jadi kak?"

"Enggak mbak.. Orang di rumah gamau. Itu aja deh". Jawaban gue menuju kasir dengan buru buru sambil membuka dompet, melihat cuaca diluar dan cepat cepat ingin pulang sampai rumah.

Tiba di kasir. Dengan menerima uang kembalian dan terlihat mbak kasir ini, tertawa kecil melihat gue, sambil cekikikan.

"Makasih ya mba" Ucapan terakhir gue dengan penuh malu tercampur emosi.

-The End-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AWAL YANG SULIT #PART 2

Film ; Kucing #3

Film ; Bicara rindu tak murah #5