MISTERIUS PENGANTAR PIZZA CHAPTER 3 "MISTERIUS PENGANTAR PIZZA"
Pizza Mania 24 Jam. "Delivery,
5 ukuran big box. 2 pizza chicken mashrooms, 3 pizza beef sweet corn dengan pinggiran sosis. Villa
blackpink di Jalan Masih Panjang No
5, dengan pembayaran ditempat (cash)
atas nama Carmella". "Siap !".
Ting tong.. Suara bel yang berada di atas meja kasir. "Iya selamat malam Pizza Mania 24 jam". Sapaan mbak kasir di depan. Wanita berpostur tinggi, langsing dengan rambut hitam nya yang terurai panjang
dan memakai topi berwarna hitam ini, mengenakan berkaos putih dengan celana panjang jeans bergaya casual, menyapa dan
menghampiri meja depan mbak kasir pegawai pizza
mania.
"Mau pesan apa mbak?
Untuk weekend ini kami ada tambahan diskon paket pizza mania". Mba kasir sambil membuka dan menunjukan beberapa menu
paket mania sensasi beef.
"Enggak Mbak. Gini, teman saya yang tadi pesan
delivery pizza mania di villa blackpink, saya mau ambil aja jadi di
take away aja ya mbak. Kebetulan tadi saya di telepon teman saya, sekalian
lewat sini disuruh mampir langsung ambilin". Jawaban lembut dari Julie sambil
menutup buku menu paket pizza mania.
Julie Agustine wanita
cantik , kompetitif, modis, suka membawa gosip negatif, periang dan kaya raya
yang dikenal dengan Ratu biang gosip (bigos) di THJ ini. Julie dan Nadias
selalu membuat onar bersama. Nadias Dwi Agyta adalah teman akrab Julie, yang
selalu siap membantu Julie apapun. Nadias wanita lugu, berambut pendek blonde yang menyukai warna ungu dan fans berat berry ini sudah lama berteman
dengan Julie sejak awal kelas X (sepuluh).
"Mbak Bisa di take
away kan?!!". Tanya Julie dengan penuh maksa.
"Iya baik mba kami bungkus ya mohon
tunggu 15 menit lagi. Ini pemesan pembayaran nya cash ya mba, total semua Rp 995.800".
"Oh pembayaran cash ya,
sebentar ya ambil dompet saya dulu di mobil". Bergegas cepat Julie ke mobil. "Nad...
Nad punya uang cash gak?". Tanya Julie sambil membuka tas Nadias di jendela pintu
depan mobil. "Berapa? Haduh kaya orang susah aja sih hari gini, pesan delivery pake
cash ! kampungan banget sih si Lala..! Nih". Sambil memeriksa kantong jaket
Nadias. "Kuraaaaannggg Naad.. Duh gimana nih kita ke atm dulu deh". Julie yang sedang sibuk nya mencari sisaan uang cash di tas nya, namun tak ada selembar uang pun yang tersia.
"Yaudahlah lo tunggu ya gue ke
ATM dulu". Bergegas Nadias menyalakan mobilnya.
"Ya jangan lama-lama Nad, ambil
satu juta Naaddd..". Teriak Julie dari kejahuan sambil menunggu di depan pintu restaurant pizza mania.
"Mbak.. Pizaa nya,
mbak Pizza sudah siap". Mbak kasir pizza memanggil Julie yang sedang menunggu diluar.
"Ya ya mbak 5 menit lagi ya". Suara bisik Julie sambil menelpon Nadias. "Nad, lu
dimana buru...". Suara kepanikan Julie membuat mbak kasir pizza mania bingung.
"Iya Jul nih tinggal belok kiri".
"Ok".
Julie masuk
menghampiri mbak kasir, sambil menjelaskan kepada nya bahwa teman nya sedang mengambil dompet yang tertinggal. Setibanya, Nadias di depan pintu restaurant pizza mania membunyikan klakson mobil. "Bentar ya mbak".
Julie yang menghampiri Nadias dan mengambil duit dari kaca jendela mobil depan.
"Okay mba nih uang nya ya". Sambil mengambil 5 big box pizza.
"Mbak maaf tolong
tandatangan nya di struk kami untuk bukti bahwa pesanan sudah diambil dan
menjadi take away". Mbak kasir sambil
menyodorkan pulpen ke Julie.
"Oh iya sini". Julie menandatangani struk
pembayarannya.
"Mba tolong namanya ya sekalian di bawahnya sini". Sambil menunjuk
di bawah tandatangan Julie.
"Hmmm mba tolong tulis saja namanya atas nama Didi".
Julie sambil membawa 5 kotak pizza besar ke luar.
ðŸ’ðŸ’ðŸ’
Villa Blackpink pukul
01.15 Wib.
Suasana gelap bersama
SMA THJ masih menyelimuti hening villa Blackpink dengan dihiasi lilin di balkon
belakang kolam renang. Dengan keadaan gelap yang hanya diterangi dengan
beberapa lilin, suara tangis histeris Lala kembali mengejutkan, melihat kepala
ayam dengan darah busuk itu, membuat yang lain ikut histeris. Ratna mencoba mengajak
Lala untuk lari ke depan sambil membawa lilin. Setiba diruang tengah Ratna bertemu
Luwi dan menceritakan apa yang di lihat oleh Nana dan Lala di bawah meja
belakang.
Dengan suasana yang
gelap Luwi mencari Didi di lantai 2 dan sekitar balkon belakang villa
blackpink. Setiba nya Luwi di ujung tangga hendak menaik mencari Didi, Luwi
melihat pria bertudung hitam, membawa beberapa kotak pizza mania dan memakai
topi Restaurant Pizza Mania.
"Hey ! Mas.. Mas Mas tunggu". Luwi berlari cepat menaiki tangga
mengejar misterius pengantar pizza itu. Setiba di lantai 2, Luwi kehilangan
jejak pria misterius pengantar pizza dan mencoba mencari di kamar ruang sekitar dan ruang tengah sambil melihat ke arah bawah. "Yeaaaahhh... Yakkk... Yakk tunggguuu !!". Luwi melihat sosok pria
misterius dari atas teras villa, dan berlari di balkon belakang kolam renang.
Luwi pun bergegas
turun dengan cepat melewati tangga untuk mengejar pria misterius itu. Sambil
menyalakan senter, Luwi mencari dan melihat di sekitar balkon belakang, pria
misterius pun tidak ditemukan. Didi yang berjalan
dari arah pintu belakang balkon menyapa Luwi.
"Luw... ada apa? Kenapa lari-lari?"
Tanya Didi sambil memegang lilin.
"YHAAK ! darimana aja lu???!! Modusin
cewe-cewe?!!". Tanya Luwi dengan emosi dan penuh amarah, sambil menarik baju Didi.
"Gue
dari depan liat sekring listrik".
"Terus? Gimana sekring nya?".
"Aman sih.. ini
Kayanya mati listrik sekitar dari PLN nya deh".
"Sini lu ikut gue? Ajakan Luwi
dengan menarik baju lengan panjang berwarna kuning Didi.
Didi dan Luwi pergi
menuju ke arah kamar depan villa blackpink. Melihat keadaan yang membingungkan
mayat Kang Gugun mau di apakan? Akhirnya, mereka ber dua menutupi mayat Kang
Gugun dengan seprai putih yang ada di kamar depan ini. Siswa THJ pun masih merasakan larutnya
malam dengan ketakutan, dalam suasana kepanikan yang histeris.
Lantai 2 ruang
tengah, Villa Blackpink.
Ratna dan Lala
mengajak teman-teman lainya untuk ke lantai 2 mencari tempat yang lebih aman
dan tinggi untuk mencari signal untuk mencari sebuah bantuan. Sedangkan di lantai 1 ,
Berry, Luwi dan Didi masih mencari lelaki misterius berpakaian serba hitam menggunakan topeng besar bergamabr tengkorak dengan
topi karyawan pizza mania. "Luwi lu beneran liat laki-laki misteris
berkeliaran sini? Mungkin itu tukang pizza". Tanya Berry, sambil berjalan
perlahan ketakutan menarik baju belakang Luwi.
"Yhak ! Apasih !!
Tarik-tarik baju gue gini, jalan mencar kesana kenapa sih?!!"
"Gue takut Luw..
Gue gak mau mati sekarang. Gue masih mau kuliah, sekolah yang tinggi, menikah
sama perempuan yang dewasa, terus punya anak, punya rumah.. terrruuss.."
"Terussss
lu gue tinggal disini ! Mau? Biar mati penasaran !" Sautan nyeleneh Luwi yang mulai kesal
atas bicara khayalan Berry. "Bisa diam gak sih, mending lu cari kek sebelah sana ber". Jawaban tambahan dan penjelasan mengenai ciri-ciri lelaki misterius dari Luwi, sambil menunjuk ruang pintu belakang balkon kolam renang.
Berry mulai
memberanikan diri dan berjalan ke arah kamar tengah. Sedangkan Didi mencari di
toilet belakang dekat kolam renang. Seiringnya waktu, berjalan mereka mecari. "Aaaakkkkkkk!!!!!".
Teriakan Berry yang begitu keras membuat seisi penghuni villa blackpink ketakutan. Luwi dan Didi berlari ke arah ruang tengah
melihat apa yang terjadi pada Berry. "Berr.. kenapa kenapa??!!" Tanya Didi. "Itu
Di ada darah di samping lemari hitam itu". Suara ketakuan Berry yang super culun nya itu, sambil menunjuk ke sebuah lemari hitam yang beradad di sudut pojok.
Suara berry terbatah
ketakutan melihat darah. Luwi dan Didi melihat arah darah yang menuju tembok
di sudut pojok dekat lemari besar berwarna hitam. "Di, itu di atas apatuh kaya ada rambut". Tanya Luwi sambil
menunjuk ke atas lemari hitam. "Ini , oohh ini
rambut Luw". Jawaban Didi, seenak jidat bapak nya. "Hm. Yaa gue juga tau pandjul !! Itu rambuuut. Coba naik lu
liat itu itu rambut apaan?". Perintah Luwi untuk meriksa dan melihat ada apa di atas lemari. "Kok
gue sih?? Gue Luw??? Ahhhh Berry aja tuh.. Si Berry daritadi gak ada kerjanya".Sebuah pengelakan Didi yang menujuk sembarang asal ke Berry.
Berhubung dengan
postur Luwi yang lebih tinggi dua kali lipat dari Didi dan Berry, sedangkan
Berry dengan postur kurus dan pendek. Akhirnya, Luwi memutuskan untuk
mempersilahkan Berry naik ke pundak Luwi. "Yaudah ber, cepat lu naik sini ke
pundak gue". Tawaran Luwi terhadap Berry.
"Kok gue sih?!!"
"Ya lu lah cepet ! Lu kan
kurus, pendek, ayo cepet sin"i. Harapan berry dalam ketakutan mencoba
memberanikan dirinya membuat dia perlahan melangkah menuju Luwi dan naik ke
pundak Luwi untuk melihat ada apa di atas lemari itu.
"Luw... Pelan-pelan.. Pelan
pelan, begok ! Pelan pelaan". Luwi pun mulai perlahan berdiri dengan Berry yang ada
di pundak Luwi.
"Di.. Senterr.. Senter sini buruuu" Berry yang meminta senter kepada Didi dengan tangan gemetar.
"Iya nih". Didi memberikan senter, sampit menjijitkan kaki nya.
"AAAAAKKKKKK.....!!!!!!!". Berry terkejut dan tercampur ekspresi histeris ketakutan. Luwi kehilangan keseimbangan sehingga mereka bedua
jatuh. Didi yang penuh tanya, "apa??? Apaa???? Apaan tuh??".
"Itu rambut orang..!!
rambuuut. Mm mm mu mu muka nya, muka si Lastri teman kita. Suara jawaban Berry yang terbatah batah ketakutan.
"Hah ! serius lu". Jawaban
kompak dari Didi dan Luwi".
Mendengar suara
teriakan dari bawah, membuat Ratna turun ke bawah melihat keadaan Crazy man
dibawah. Dengan lari menurunkan tangga, Ratna berteriak dan bertanya. "Woiy ada
apaan ada apaan???". Sambil memegang lilin menuju arah kamar tengah.
"Ada apa Ber?"
"ADA MAYAT LESTARI NA DI ATAS LEMARI".
"HAH SERIUS LU BER? MANA MANAAA BER??!!"
"Gue juga belum percaya nih sama Berry". Perkataan Luwi yang belum begitu percaya dengan Berry, akhirnya Luwi mencoba menggendong Ratna untuk melihat dan memastikan. "Na, Nana sini aku gendong liat dan pastiin lagi".
"Iya, okay aku liat dan pastiin". Nana yang sedikit takut, namun banyak melebihi rasa penasaran nya. "Tuker dulu nih lilin aku sama senter".
Dengan perlahan, Luwi pun perlahan berdiri. Nana pun terkejut dan berteriak histeris. "AAAAKKKK !!!" . Teriakan histeris Nana.
"YHAK... YHAKKKK jangan goyang-goyang Na.. duh leher aku sakit nih". Bruuuhkk... Mereka berdua pun hilang keseimbangan dan terjatuh bersama, Ratna yang terjatuh dalam pelukan Luwi. Terdiam. Mengubah suasana menjadi romantis dan hening. Tatap mata yang kosong dengan mata saling tatap memandang menghadirkan perhatian cinta datang dari mata turun ke hati.
"ADA MAYAT LESTARI NA DI ATAS LEMARI".
"HAH SERIUS LU BER? MANA MANAAA BER??!!"
"Gue juga belum percaya nih sama Berry". Perkataan Luwi yang belum begitu percaya dengan Berry, akhirnya Luwi mencoba menggendong Ratna untuk melihat dan memastikan. "Na, Nana sini aku gendong liat dan pastiin lagi".
"Iya, okay aku liat dan pastiin". Nana yang sedikit takut, namun banyak melebihi rasa penasaran nya. "Tuker dulu nih lilin aku sama senter".
Dengan perlahan, Luwi pun perlahan berdiri. Nana pun terkejut dan berteriak histeris. "AAAAKKKK !!!" . Teriakan histeris Nana.
"YHAK... YHAKKKK jangan goyang-goyang Na.. duh leher aku sakit nih". Bruuuhkk... Mereka berdua pun hilang keseimbangan dan terjatuh bersama, Ratna yang terjatuh dalam pelukan Luwi. Terdiam. Mengubah suasana menjadi romantis dan hening. Tatap mata yang kosong dengan mata saling tatap memandang menghadirkan perhatian cinta datang dari mata turun ke hati.
ðŸ’ðŸ’ðŸ’
Dalam hati seketika Ratna
berbicara :
Luwi, jika cinta ini bisa menghadirkan perhatian yang
tulus dengan bahasa kalbu mu yang begitu dingin kepadaku, aku sudah terjebak
dalam keegoisan ku di dalam cinta ini. Atas nama cinta, sepertinya aku tidak
peduli bahwa aku sesungguhnya akulah cinta yang tulus dari yang lain. Maaf
membiarkan hubungan ini, saat kita saling mengisi hati dan cinta.
"EHEM !! Udahan liat
liatan nya woy...!!". Sindiran Didi, membuat Ratna dan Luwi kemabli berdiri.
"Kamu liat apa?
Beneran itu Lestari?". Tanya Luwi dengan rasa hati setengah grogi.
"Iyaaa itu Lestari temen kita yang suka mintain uang kas di kelas". Jawab Ratna.
"Ya kita harus gimana?". Pertanyaan Berry yang super panik dan ketakutan.
"Yaudah kita fokus cari lelaki misterius pengantar pizzaa itu dan kita tutupin kain aja mayat Lastri ini". Jawab Luwi sambil mengambil senter di bawah kolong kasur.
Luwi, Didi dan Berry pun berusaha menutup mayat Lastri yang berada di atas lemari itu dengan kain selimut.
"Yaudah Na kamu ke atas lagi aja, tenagin teman-teman kita yang lain ya". Perintah Luwi.
"Ya temenin gue sampe tangga dong please...". Ratna memohon ketakutan.
"Iya gue temenin dulu Ratna, lu ber dua lanjut cari sekitar kolam renang sana ya". Perintah Luwi terhadap Berry dan Didi. "Yuk Na !".
"Iyaaa itu Lestari temen kita yang suka mintain uang kas di kelas". Jawab Ratna.
"Ya kita harus gimana?". Pertanyaan Berry yang super panik dan ketakutan.
"Yaudah kita fokus cari lelaki misterius pengantar pizzaa itu dan kita tutupin kain aja mayat Lastri ini". Jawab Luwi sambil mengambil senter di bawah kolong kasur.
Luwi, Didi dan Berry pun berusaha menutup mayat Lastri yang berada di atas lemari itu dengan kain selimut.
"Yaudah Na kamu ke atas lagi aja, tenagin teman-teman kita yang lain ya". Perintah Luwi.
"Ya temenin gue sampe tangga dong please...". Ratna memohon ketakutan.
"Iya gue temenin dulu Ratna, lu ber dua lanjut cari sekitar kolam renang sana ya". Perintah Luwi terhadap Berry dan Didi. "Yuk Na !".
Luwi dan Ratna
berjalan perlahan bersama menuju tangga. "Eh Na gue anter sampe atas aja ya".
"Hmm.. iya, thanks ya Luwi". Langkah
demi langkah mereka menaiki tangga bersama. Seketika Genggaman tangan Luwi dan
Ratna mengubah suasana menjadi romeo and
juliet yang menaiki tangga ke atas plaminan. "Na?". "Iya?" Jawaban Ratna sambil
melihat arah Luwi. "Kalau ada lelaki pengantar pizza misterius itu, teriak aja
ya yang kencang panggil aku ya, jangan takut". Genggaman erat tangan
Luwi seolah menguatkan hati Ratna agar tidak takut dan menjadi berani.
"Aku yakin lelaki misterius itu pengecut ! Aku pergok di lantai 2 malah kabur gitu. Terus. Aku kejar lari ketakutan". Luwi tetap berusaha meyakinkan Ratna bahwa semua akan baik-baik saja, dan tidak terjadi apa-apa kepada Ratna.
"Oh ya?? Oh lelaki itu pengecut ya". Jawaban sembarang asal dari Ratna yang sedang menikmati genggaman tangan Luwi.
"Iyaaa... Jadi tenang aja gak usah takut, kita ga boleh takut dari dia dan gue rasa dia lelaki psikopat deh".Sebuah penenangan kata dari Luwi seperti pahlawan yang kebetulan lewat.
"Aku yakin lelaki misterius itu pengecut ! Aku pergok di lantai 2 malah kabur gitu. Terus. Aku kejar lari ketakutan". Luwi tetap berusaha meyakinkan Ratna bahwa semua akan baik-baik saja, dan tidak terjadi apa-apa kepada Ratna.
"Oh ya?? Oh lelaki itu pengecut ya". Jawaban sembarang asal dari Ratna yang sedang menikmati genggaman tangan Luwi.
"Iyaaa... Jadi tenang aja gak usah takut, kita ga boleh takut dari dia dan gue rasa dia lelaki psikopat deh".Sebuah penenangan kata dari Luwi seperti pahlawan yang kebetulan lewat.
Dalam hati seketika
Ratna berbicara :
Thanks ya Luwi. Kamu sudah menemainiku di hati ini dan
melawan rasa takut ku dengan menguatkan keberanianku. Aku takut. Takut
kehilangan masa dimana saat kamu yang selalu peduli, tentang cinta ini, dan
kepercayaan cinta ku.
"Na? Nana..? Bengong
ajasih?"
"Eh iya, kenapa?". Seketika mereka berhenti di sela perjalanan menuju tangga atas lantai dua.
"Kan.. di tanya mala bengong gini".
"Oh iya? Kamu nanya apa?".
"Yaudah lah kapan-kapan aja aku nanya ini lagi ke kamu".
"Ish !! Kamu nih".
Jawaban Luwi yang begitu pasrah, "Ya yaudahlah gak penting Na. Yang paling penting sekarang ini fokus dan mencari lelaki misterius itu dulu ya. Yuk cepat ke atas takut kelamaan si Berry sama Didi nanti nyusul, lagiiii".
"Hmm.. tunggu Luwi". Tarikan genggaman tangan Ratna.
"Kenapa?" Tanya Luwi.
"Makasih ya sudah nganterin aku ke atas, menenangkan rasa taku takut ku. Gerakan tubuh Ratna mendekat dengan tercampurnya aroma tubuh Luwi. Sebuah pelukan hangat terjadi. Suasana pun, berubah menjadi romantis seketika. Waw.. Luwi terkejut dan melihat Ratna. "Thanks Luwi". Ratna tersipu malu dan berlari dan mengatakan be carefull sambil menuju tangga paling ujung lantai dua.
"Ya.. Bye Na". Luwi melambaikan tangan dan menunjukan senyum manis bahagia.
"Eh iya, kenapa?". Seketika mereka berhenti di sela perjalanan menuju tangga atas lantai dua.
"Kan.. di tanya mala bengong gini".
"Oh iya? Kamu nanya apa?".
"Yaudah lah kapan-kapan aja aku nanya ini lagi ke kamu".
"Ish !! Kamu nih".
Jawaban Luwi yang begitu pasrah, "Ya yaudahlah gak penting Na. Yang paling penting sekarang ini fokus dan mencari lelaki misterius itu dulu ya. Yuk cepat ke atas takut kelamaan si Berry sama Didi nanti nyusul, lagiiii".
"Hmm.. tunggu Luwi". Tarikan genggaman tangan Ratna.
"Kenapa?" Tanya Luwi.
"Makasih ya sudah nganterin aku ke atas, menenangkan rasa taku takut ku. Gerakan tubuh Ratna mendekat dengan tercampurnya aroma tubuh Luwi. Sebuah pelukan hangat terjadi. Suasana pun, berubah menjadi romantis seketika. Waw.. Luwi terkejut dan melihat Ratna. "Thanks Luwi". Ratna tersipu malu dan berlari dan mengatakan be carefull sambil menuju tangga paling ujung lantai dua.
"Ya.. Bye Na". Luwi melambaikan tangan dan menunjukan senyum manis bahagia.
"LUWI... LUWI...
PANGGILAN KEPADA LUWI GIEST DWI ALYWN. Suara teriakan Berry dari lantai bawah. "Yaaa yaaa... Bawel ya si Berry". Luwi
pun bergergas turun. "Ada apa? Lu manggil gue pake pengumuman gitu".
"Kaya ada orang deh deket pintu basement samping dapur". Jawaban Berry sambil menyenterkan arah pintu dapur dekat basement.
"Kenapa gak lu samperin???!!"
"Ah lu aja. Si Didi juga gak tau deh tuh, gak keliatan daritadi. Gue kan takut".
"Ayok kita lihat..". Jawaban semangat dari Luwi.
"Eh Luwi, kita apa cari Didi dulu ke depan? Didi gak ada suaranya daritadi".
"Yaudah giamana kalolu yang keluar nemui Didi, gue ke samping basement".
"Yah lu... Teman kita kan lebih penting".
"Woy penjahat yang menghilangkan nyawa ini juga tetap penting..! Argh yaudah yaudah... gue ke depan dulu".
"Yaudah sanalah. Teserah.. Udah gak sejalan gini, kita putus ajalah". Jawab candaan super menggelikan Luwi yang ingin bergegas cepat menuju pintu samping arah basement.
"Kaya ada orang deh deket pintu basement samping dapur". Jawaban Berry sambil menyenterkan arah pintu dapur dekat basement.
"Kenapa gak lu samperin???!!"
"Ah lu aja. Si Didi juga gak tau deh tuh, gak keliatan daritadi. Gue kan takut".
"Ayok kita lihat..". Jawaban semangat dari Luwi.
"Eh Luwi, kita apa cari Didi dulu ke depan? Didi gak ada suaranya daritadi".
"Yaudah giamana kalolu yang keluar nemui Didi, gue ke samping basement".
"Yah lu... Teman kita kan lebih penting".
"Woy penjahat yang menghilangkan nyawa ini juga tetap penting..! Argh yaudah yaudah... gue ke depan dulu".
"Yaudah sanalah. Teserah.. Udah gak sejalan gini, kita putus ajalah". Jawab candaan super menggelikan Luwi yang ingin bergegas cepat menuju pintu samping arah basement.
"Aiisssshhh... Kalau gue
gak sayang sama lu. Gue tinggal lu, gue gak peduliin lu deh dii". Ocehan Berry sambil
menuju ke arah luar. "Di.. Di.. Diiiidiii.. Mahardi Egy... Diii Diiii... Dimna
sih lu?". Berry masih terus mencari Didi.
Setibanya Berry di depan pintu garasi, melihat darah dibawah. Dengan rasa takut
untuk melihat, Berry memberanikan diri dan melihat lebih dekat darah apa yang
berada di depan pintu garasi.
-Bersambung-
Mohon Maaf, baru update kelanjutan Misterius Pengantar Pizza ini. Next Chapter gue update secepatnya deh.Tungguin ya, masih ada cerita Berry yang tengil, Luwi yang super romantis dan si lelaki misterius yang masih menikam mangsa nya.
Cerita ini hanya fiktif berganre misteri. Mohon maaf, bila terjadinya kesaaman nama, tempat dan kejadian. Semua hanyalah unsur kebetelan semata.
Link chapter 1
Link cahpter 2
Komentar
Posting Komentar