MISTERIUS PENGANTAR PIZZA CHAPTER 5 "TRAGEDI CINTA DAN POPULARITAS #2"
Lala kembali
menengahkan dengan tegas kali ini. Menjelaskan satu persatu atas masalah ini,
tanpa membelakan siapa-siapa. Sebuah penjelasan yang objektif berdasarkan points dan kesimpulan terjadinya malam
ini. Kedua team pun berkumpul di lantai dua, pemaparan yang dipimpin Lala satu
per satu pun akan dimulai. Dengan buku kecil catatan dari Lala, Lala mulai
menanyakan dan memaparkan dari point ketika Lala memesan pizza setelah
mengobrol dengan Didi.
Pertanyaan untuk
Julie, "Kapan Didi menyuruh lu ngambil pizza dan menjadi take away? Yang seharusnya pizza mania ini gue pesan delivery??". Pertanyaan pertama Lala
sambil melihat buku catatan kecil nya. "Jawab lo !! Jull.." Sautan tambahan Ratna
yang penuh emosi. Julie menjawab, "Gue lupa tepatnya kapan. Yang gue tau gue
diajak sama Didi ke pesta murahan lo ini. Didi maksa gue ! akhirnya gue pergi
bareng Nadias. Ketika di jalan, Didi
ngabarin gue tolong sekalian ambilin tuh pizza nya". Jawaban Julie yang nyeleneh.
Sebuah jawaban yang merangkai sejumlah points
yang sudah di susun oleh Lala. Lala mengeluarkan pisau yang ada di dalam
plastik putih kecil dan menunjukan kepada teman lainnya. Bahwa pisau kecil
tersebut adalah sebagai barang bukti untuk menemukan sidik jari sang pelaku.
Mereka pun menunggu
beberapa jam sambil rehat sejenak bersama di ruang tengah villa, sambil menunggu
pagi. Berry yang semakin resah dalam kesedihan nya telah kehilangan sahabat
nya, Berry menghampiri dan melihat untu terakhir kali mayat Didi sambil
mengeluarkan air mata. Setiba Berry menghampiri tempat mayat Didi, Hilang.
Mayat Didi hilang, kain seprai putih yang berantakan di lantai membuat Berry
kaget. Berry menghampiri teman lainnya untuk memberitahukan mayat Didi telah
hilang.
"Luwwwww... Luuww...
Luwiiiiii Luwiii... ". Suara Berry yang histeris memanggil Luwi. Luwi yang sudah
tidur terlelap terbangun mendengar suara teriakan Berry. Luwi pun hendak ke
arah Berry di kamar tengah tempat mayat Didi di situ. Luwi pun terheran dalam
pikiran yang sedang berpadu kesedihan melihat mayat Didi tidak ada. Kini Luwi
dan Berry mencari mayat Didi yang hilang saat itu juga.
Masalah demi masalah
dengan tragedi malam ini di Villa Blackpink, yang kini villa blackpink membuat
cerita sejarah yang penuh misteri dan cerita tumpah darah remaja. Sebuah kasus
kembali, yang kini sangat misterius yaitu, hilangnya mayat Didi. Beberapa point
yang sudah di susun dalam tahap penyelesaian untuk jalan keluar pun semakin
rumit dan misterius. Terjebaknya dalam kasus ini, Lala dan kawan-kawan nya semua
berfokus pada pencarian mayat Didi yang telah hilang.
Pukul 05.00 Wib.
Sinar fajar yang kelam dengan aroma embun pagi hari menyambut suasana misteri,
membuat kiat dalam tekad pencarian utama. Meski hati merasa kehilangan lima
kali lipat pun sangat terasa kesedihan teramat mendalam untuk mencari nya. Sosok
cinta terakhir untuk dilihat. Sebuah paksaan dalam kesedihan ini, sebuah
keharusan pencarian mayat Didi. Penyesalan Lala untuk berjuang bersama
teman-teman nya kini memasuki ruang gelap, tersesat arah jalan untuk mengakhiri
malam yang panjang penuh tragedi dan misteri pun, kini melangkah menjauh untuk
menyelesaikannya.
Kini Ratna mencari
cari cara agar menemukan mayat Didi yang tak berujung ini. Planning kali ini mengarah pada keutamakan sebuah pencarian mayat
Didi. Ratna teringat saat masa ia berlibur setahun yang lalu bersama
keluarganya, di basement terdapat pintu
kecil sebelah pojok kiri mengarah pintu balkon belakang villa blackpink adanya
kamar kecil yaitu, control room cctv
villa blackpink ini. Tanpa berfikir panjang dan lain-lain, Ratna mengambil
kunci yang bergantung di balik pintu kamar utama. Kunci dengan gantungan kecil karakter minions berwarna kuning pun diambil.
Ratna hendak bergegas menuju ke control room yang berada di basement bawah.
Melihat Ratna berlari
ke luar, Luwi mengikuti Ratna yang sedang bergegas terburu menuju basement bawah. Sesampai di ruang cctv
Ratna menjelaskan pada Luwi.
"Kita bisa melihat gerak dan gerik lelaki pembunuh
misterius disini Luw".
"Hah ! Kenapa gak bilang dari awal saja Naaa.. Coba sini,
biar gue aja yang telusuri". Luwi mengambil alih untuk menelusuri riwayat yang
sudah terjadi dalam cctv di villa blackpink ini. Jejak rekam pada cctv ini,
menunjukan tidak ada pertanda awal mula lelaki pembunuh misterius memasuki
pintu gerbang utama villa blackpink.
Namun terlihat
sekilas samar, sang lelaki pembunuh misterius membunuh kang Gugun dengan
bepakaian jaket hitam. Luwi dan Ratna melakukan investigasi mendalam atas jejak
rekam seluruh aktivitas dan kejadian di villa blackpink ini. Terlihat suatu kejanggalan
pukul 01.25 Wib, telah terekam jejak
lelaki pembunuh misterius di camera 9
yaitu, camera 9 terletak ruang
basement bawah ini, lelaki pembunuh misterius itu memasuki ruangan ini (control room cctv). Sebuah tatapan
kosong Ratna melihat Luwi yang membuat heran dan berfikir.
Suatu hal yang
menjanggal dalam rasa takut menyelimuti kepanikan membuat Ratna dan Luwi
melihat ruangan sekitar.
*Luwi
melirik monitor melihat pada sisi belakang Ratna adanya lelaki bertopeng dengan
jaket karyawan pizza mania sedang membawa pisau panjang di samping tumpukan
kardus ingin menikam Ratna dari belakang.
"Ratnnaaaaaa...
Awaassss Naaa...!!!". Teriakan amarah Luwi. Pisau meleset ke tangan Luwi, Ratna
yang terjatuh jauh dekat pintu dengan rasa penuh takut. "Lariiii Naaaaa...
Lariiiiii....".
Suara kemarahan Luwi
melampiaskan pada lelaki misterius ini dan terjadinya perkelahian dengan emosi
jahat kian darah bercucuran di lantai. Melihat Ratna bergegas berlari cepat ke
luar, lelaki misterius itu mengejar Ratna ke luar dan meninggalkan Luwi. Luwi
dengan posisi lemah dengan telapak tangan yang berdarah berusaha menghentikan
lelaki misterius itu. Amarah menyelimuti suasana lelaki misterius itu menusuk
lengan tangan kanan Luwi. Luwi lemah dan tak berdaya.
Setibanya Ratna di
pintu masuk ruang tengah jerit tangis yang penuh rasa ketakutan membuat
teman-teman lainya menjadi panik.
"Ada apa Na ada apaaaa...??" Tanya Lala.
"Luu
Luu Luwiiii di ruang basement !! Laaa..!
Sama lelaki pembunuh itu". Jawaban Ratna dengan isak tangis dan ketakutan
itu memeluk erat Lala.
Berry mendengar atas jawaban Ratna itu, bergegas cepat menghampiri Luwi dengan penuh emosi.
"Berrrr... Berrryyyyy lelaki itu membawa pisau ! BERRRYYYYY BALIKK SEKARANG BER..!
BERRRYYY..." Teriakan Ratna ingin mencegah hal nekat dan konyol nya Berry.
"Luwww... Luwiii.."
Berry memasuki pintu garasi menuju basement. Setibanya Berry di depan pintu
control room, Berry melihat lelaki misterius itu, menginjak badan Luwi yang
sudah tidak berdaya. Suara batuk kecil penuh kesakitan Luwi terdengar oleh
Berry. Tanpa lama berfikir panjang lagi, Berry memukul kepala lelaki misterius
itu dari belakang dengan stick golf.
Penuh amarah yang
kejam dan isak tangis Berry melampiaskan pada lelaku pembunuh misterius itu
dengan memukul beberapa kali kepala lelaki pembunuh misterius itu hingga babak
belur dengan penuh darah bercucuran di lantai. "BAJINGAN ! ARHHH !! PEMBUNUH SIALAN ! BIADAP !". Suara amarah Berry sambil memukul terus menerus kepada
lelaki pembunuh misterius itu.
Tangan Luwi yang
lemah memegang dan menarik kaki Berry. "Berrrrrrr... udah.. udah ! Dia “Didi”
Berr.. Cukuuuuuuuupppp !! Berr". Suara hentakan keras Luwi yang lenah itu, memberitahu
pada Berry. Berry melihat Luwi dengan tatapan kosong penuh penyesalan dalam
kepedihan yang teramat sedih. Berry yang sangat mempunyai hati kesetiaan dengan
ke dua sahabatnya ini, membuat hati menjadi penyesalan teramat menyesakan teruntuk
Berry. Rasa sesak hati pada Berry justru mengimiditasi hati nya. Seolah ia
tidak mampu membuka topeng penutup muka yang di kenakan lelaki pembunuh
misterius itu, yang di katakan Luwi dia adalah Mahardi Egy Sasono, Didi.
Perseteruan Luwi dan
Berry membuat Lala dan Ratna menghampiri mereka ke ruang basement. Ratna yang
menghampiri Luwi dengan keadaan senyum puncat nya, Luwi menyapa Ratna. "Hi Naa..".
Ratna pun mengenggam tangan Luwi yang lemah. Sedangkan, Lala menghampiri lelaki
pembunuh misterius itu, dan membuka topeng hitam besar yang di gunakan lelaki
pembunuh misterius itu.
Melihat sosok dibalik
topeng lelaki misterius itu, membuat Lala terkejut dengan hati merintis dan
tatapan mata yang kosong. Bahwa, lelaki misterius itu dia adalah Didi. Didi
sang crazy man dengan prestasi musik
nya epic dan kreatif. Didi terlihat lemah dengan muka dan kepala penuh luka
darah itu, membuat Berry menyesali dengan penyesalan hati nya yang telah
memukuli tanpa hati dan pikiran yang sangat emosi.
15 menit yang lalu,
Ruang CCTV basement Villa Blackpink.
Sebuah percakapan dan pengakuan Didi
sebagai lelaki misterius yang menyamar sebagai pengantar pizzamania. Suara
lemah penuh kesakitan Luwi terdengar
pelan meminta tolong untuk meyelesaikan apa kemauan lelaki misterius
pengantar pizza ini. Kau tau, nyatanya
cinta selalu menggerakan sifat individu gue yang penuh egois ini. Suara Didi
dibalik topeng nya. "Cinta yang selalu gue perjuangkan selalu berakhir dengan
lu. Kenapa??!!!" Suara teriakan amarah Didi, sambil membuka topeng nya.
Luwi dengan kondisi
kesakitan itu, selalu ingin memeluknya dalam kondisi apapun. "Hei kita teman!!
Kenapa lu seperti ini, seperti roh jahat yang sangat egois selalu menguasai
pikiran dan hati lu. Gue selalu bilang, Dii kalo ada apa-apa yang selalu menjanggal
antara kita, tolong jujur dan kita omongin baik-baik. Lu emang gak kasian sama
Berry yang selalu sayang dan selalu berkorbann dirinya tentang apapun itu demi
lu". Suara Luwi yang semakin lemah itu selalu mengingatkan dukungan dan kesetian
kawan crazy man.
Ekspresi Didi dengan
penuh emosi dan mata merah yang penuh amarah, seolah bukan Didi yang Luwi
kenal. Didi yang menendang keras perut Luwi. "Cukup ! bullshiiiit crazy man!!
Tidak ada crazy man. Selama ini gue
jadi babu yang menyedihkan. Gue melakukan ini semata ingin membalaskan dendam
tragedi cinta dan kepopularitasan gue di
saat SMA yang menyedihkan ini. Gue akan membuktikan dan menunjukan selama 3
tahun yang gue pendam ini". Suasana semakin membara dengan pikiran dan emosi
saling menguasai sifat iri Didi terhadap teman nya.
"Tolong Di, kita
teman.. Apa yang lu mau? Dan kenapa lu lakuin iniiiiiiiii??? Jawab Diiii.."
pertanyaan kekesalan Luwi.
"Haha tau apa ! Lu tentang teman. Teman gue Cuma satu
yang selalu bisa mengertikan keadaan gue. Julie selalu mendukung apa yang gue
mau, Julie yang selalu perhatian atas masalah-masalah yang gue alami di SMA.
Dia juga selalu membantu renacana hari pembalasan di villa ini !! Sifat
kebaikan lu yang selalu bikin gue kesal untuk mendekati wanita".
Kejengkelan amarah hati Didi semakin
parah, dan ingin membunuh Luwi. Moment dimana Berry yang pada akhir nya datang
terlebih dulu dengan sifat amarah dan dendam Berry lah yang membuat Didi lemah
dan sekarat penuh darah di wajah dan kepalanya. Sebuah tindakan Berry yang
selalu ingin menolong ke dua sahabatnya itu, namun berujung penyesalan dan
keresahan hati nya.
Chapater berikutnya, merupakan chapter terakhir dari cerpen Misterius Pengantar Pizza 😊
Yang menebak di cerita ini, bahwa Didi lah sang pembunuh nya.. Luar biasa sekali !! 😂😂
Terima kasih, sudah ikut berfikir dalam alur cerita gue yang misterius ini walau belu terlalu sempurna dan terima kasih, teruntuk yang sudah niat membaca blog misterius pengantar pizza cerpen pertama gue. Mohon maaf ya bila ada kesalahan kata dan lain hal. See u last chapt 😜😜
Komentar
Posting Komentar