Oh Jadi Pengangguran, Ternyata Begini.

Sudah seminggu ini, gue jadi pengangguran. Karena harus menunggu bulan depan kembalinya gue, menjadi karyawan ibu kota lagi.

Kok bisa gitu? Iya. Ada beberapa alasan pribadi dan lain hal dengan management kantor. Hehe ini bukan semacam hukuman atau sangsi ya.. Gue karyawan swasta yang taat peraturan, dan selalu tulus ikhlas saat menerima tugas dari atasan, kok.

Membayangkan hal-hal keinginan saat menjadi pengangguran, niatnya untuk istirahat cukup dengan tujuan seutuhnya peluk manja ria di kasur dan bersenang-senang, juga melakukan hal apa aja yang gue sukai selama sebulan kedepan.

Saat itu pikiran dan hati ini, sangatlah rakus sekali ingin melakukan kegiatan banyak hal tanpa harus membebani pikiran dari otak gue ini, yang sudah jumpalitan menjerit ingin relax dan refreshing .

Yang gue bayangin saat di rumah nanti itu, gue mau istirahat berjam jam yang lama. Karena cukup lelah mata, fisik dan logika gue sudah pecah.

Butuh banget bermalas manja ria di kamar ternyaman, menonton serunya film di Netflix, membaca komik baru, dan hang out berjam jam dengan teman tanpa memikirkan deadline yang mematikan tentang pekerjaan di dunia media.

Bekerja di dunia media digital itu, serba cepat butuh adanya pemaksaan skill kreatif dengan jari jemari yang beradu liar pada keyboard. Belum lagi, tumpukan-tumpukan perintah atasan yang harus selesai saat itu juga. Gak ada habisnya bekerja di dunia media digital. Just Fyi.

Saat hari pertama dimana gue menjadi pengangguran, perasaan gue senang bebas lepas pikiran dan sedikitnya merasakan beban yang menantang. Sukses terjadi yang di alami, apa yang ingin gue lakukan.

Bisik hati berteriak, akhirnya!! Bisa bebas juga. Bisa bangun siang dan menghindari budaya hari senin yang begitu rusuhnya mengeluh. Setiap paginya ada saja mood random yang sangat crowd untuk dirasakan.

Setelah seminggu di jalani, kegiatan gue lebih banyak di kamar. "Oh jadi pengangguran, ternyata begini." perasaan jenuh terucap.

Pola aktivitas keseharian gue, otomatis berubah drastis. Kegiatan gue menjadi malas 101%. Hanya tidur larut malam sambil chatting, main game, bangun lagi, scroll twitter, chatting, nulis, chatting, nonton film di Netflix, tidur lagi, bangun, melipir ngopi sambil menikmati sore dengan melanjutkan project menulis. "Oh jadi pengangguran, ternyata begini." terucap keluh kembali dalam benak hati gue yang sesungguhnya.

Esokan harinya. Kangen. Kemarin kangen, sekarang kangen lagi, besok makin kangen. Lho... Jadi keserupan kangen gini. Haha. Selain pengangguran yang sungguh absurd, gue mendadak menjadi puitis yang receh. Hiraukan !

Hampir setiap hari gue menghabiskan waktu di dalam kamar. Keluar hanya untuk mandi dan makan. Mandi? Iya mandi. Pengangguran juga mandi kok, mandinya sore menjelang magrib. Hehe.

Masih belum ada gregetnya untuk menjadi pengangguran professional yang bahagia. Pemikiran yang sungguh rakus, gue rasakan saat itu, nyatanya se-boring ini.

Wah masih ada hari esok, dan esok, esoknya lagi, dan hari esok. Hasrat jenuh sudah menguasai pikiran gue.

Beruntung punya adik yang bisa gue ajak jalan keluar. Menghabiskan waktu hari ke hari gue yang sangat jenuh dengan cara berkuliner keliling sama adik, merupakan ide yang menyenangkan.

Saat itu, cukup sering gue qtime sama adik, membeli novel, menikmati kuliner, dan berbelanja perlengkapan lainnya.

Gak terasa ya, tiba-tiba pemasukan di ATM  berkurang drastis sendirinya. Tanpa sadar. Dan kini, timbul rasa beban pikiran yang cukup sangat mengkhawatirkan yang teramat miris. Memikirkan untuk kebutuhan kedepan, saat gue mulai bekerja kembali.

Suatu hari, di mini market bersama adik untuk mengintip info saldo terkini di mesin ATM.

"Mbak jajan mbak." adik sibuk melihat lihat minuman di kulkas pendingin.

"Yaudah yaudah cepat !! Yang gocengan aja. Lagi hemat budget nih." Menggrutu kesal dalam guyonan sesaat ke adik.

"iiihh tumben di budget-in. Pelit lu gue mau yogurt." pinta adik, sambil membuka pintu kulkas minuman pendingin.

"Mahaaal mahalll teh pucuk aja, buru"

"Hahaa ya Allah, Mbak gue jadi miskin banget. Mau jajan aja di takerin gini. Yaudah ah ! beli pilus aja gue." guyonan adik sedikit menyebalkan.

"Berapa tuh?" keponya gue, sambil melihat label harga.

"Rp 5900!! Elaaah. Ntar gue ganti di rumah" tawa jahat nampak terlihat.

"hahaha udahlah gak usah jajan-jajan lagi. Ternyata jadi pengangguran, begini."

Ternyata jadi pengangguran bisa jadi lebih pelit. Beda saat menjadi keryawan kantoran, yang begitu royal. Plus dan minus banyak banget yang dirasain menjadi pengangguran newbie kaya gue saat ini.

Jujur jadi pengangguran tidak enak dinikmati secara terus menerus. Justru menimbulkan beban berat masalah keuangan pribadi dan planing karir untuk masa depan. Karir tujuan hidup yang sesungguhnya. Itu butuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AWAL YANG SULIT #PART 2

Film ; Kucing #3

Film ; Bicara rindu tak murah #5