GUE PERNAH KIDAL
Gue pernah kidal. Bisa dikatakan kidal pasif bukan kidal seutuhnya aktif. (khusus pembaca, yang selalu bertanya "Lu kidal ya Lan?") "Enggaaaak.. Gue gak kidal."
Sempet dijuluki sebagai orang yang kidal, selalu menggunakan tangan kirinya saat melengkapi aktivitas sehari-hari. Kisah lalu gue ini, berawal kelas 6 SD.
Singkat cerita, saat usia teenager gue merasakan kesenangan. Benar-benar bebas gue rasain, saat bermain bersama teman-teman komplek. Sedikit intermezzo, gue anak rumahan yang jarang banget main keluar, karena gue takut akan keramaian.
Jadi.. Kejadiannya saat Minggu di sore hari. Gue kecelakaan sepeda. Gue terlalu berlebihan merasakan bahagia yang luar biasa bermain sepeda mengelilingi komplek bersama teman.
Saat itu, teman gue bilang. "Haha cupu lu Nri, ngebut lah. Lu kan sepeda baru."
Gue yang merasa tertantang yang ga mau merasa kalah, gamau dibilang cupu dan paling gamau di bilang, "gabisa". Saat itu emang sih, gue pelan banget posisi gue, jauh tertinggal dengan teman gue lainnya. So, gue tunjukin gue ngebut. secepat cepatnya berlaju gue mengowes, bagai mengejar jodoh gue ada di depan mata. Excited.
Saat posisi gue melaju cepat, gue lihat ke arah kiri ternyata gue sudah berada di sisi yang sama dengan teman yang meremehkan gue itu. Saat itu kami, berlima. Keadaan sepeda gue masih berlaju, mengutarakan rasa hawa angin disekitar yang sejuk. Kami tertawa riang. Entah apa yang kami tertawakan saat itu.Tanpa sadaarr...
Didepan ada lubang dan tumpukan bebatuan yang begitu besar, kejadiannya begitu cepat. Tiba-tiba gue melayang dengan pikiran kosong. Sepeda gue ikut melayang terguling kearah depan dan terbanting keras. Karena ban depan sepeda gue terbentur bebatuan besar di dalam lubang jalan.
Tangan kanan gue ternyata, mendarat lebih dulu dengan terbenturnya bebatuan besar. Posisi tangan kanan gue menahan segalanya. Sakitnya minta ampun, kepala gue pusing. Tangan kanan lemah tak berdaya menahan sakit. Gue meringis tangis kesakitan, akhirnya mata bertindak burem seketika dan. Gelap.
Tiba-tiba gue terbangun di sebuah ruangan. Tangan kanan gue licin, penuh minyak urut gosok. Dan gue lihat pergelangan tangan kanan gue bengkak. Jemari dan lengan otot tak berdaya untuk bergerak.
Keesokannya, nyokap membawa gue ke rumah sakit untuk di ronsen. Sakitnya bukan main ketika tangan kanan gue, hendak meluruskan di atas meja mengarah lampu ronsen saat itu. Fix pergelangan tangan kanan gue retak dan ada tulang yang tergeser. Dokter bertindak untuk terapi mingguan dan disarankan ini, tidak boleh di urut.
Nyokap saat itu menangis dan panik terlihat pada mimik wajahnya. Tangan kanan gue berlumur rempahan kapur putih basah yang dingin. Entahlah apa namanya, sakitnya sudah tak tertahan saat dokter mengetuk pergelangan tangan kanan gue dengan palu besi yang berukuran kecil, sambil mengoyang goyangkan tangan kanan gue ke depan,belakang,samping kiri dan kanan.
Tak lama, selesai sudah penyiksaan dokter itu mengoyak ngoyakan luka dalam pergelangan tangan kanan gue. Dan akhirnya tangan kanan gue, dibalut dengan gif beralas papan tipis dibawahnya. Sambil mengalung-kan tangan kanan gue dengan bahan kain di dada.
Seminggu sekali, dokter bilang harus kontrol digantinya gif dan di balurnya kembali tangan kanan gue dengan obat rempahan kapur putih yang dingin. Selalu meringis perih kembali, ketika dokter itu membawa palu besi kecilnya. Huuuft.
Tangan kanan gue di perban dan dibungkusnya dengan bahan kain yang lebar tergantung di dada selama 8 bulan. Semenjak 8 bulan itu, gue selalu menggunakan tangan kiri. Makan, minum, menulis, menggunting,mengambil makanan, sikat gigi dan akhirnya gue selalu mengandalkan tangan kiri. Sampai kelas 3 SMP gue keterusan menggunakan tangan kiri ini.
Nyokap akhirnya mengetahui ini, kalo gue saat itu suka menggunakan tangan kiri. Sendok gue di kiri, garpu di kanan. Dan nyokap ceramah panjang kali lebar harus pakai tangan kanan kembali. Karena katanya, tangan kiri itu tidak baik. Gue selalu bertanya yang dipikirian gue saat itu. Bagaimana seseorang yang sudah terlahir kidal?
Adik selalu mengingatkan juga ketika mengambil makanan pakai tangan kanan. Berusaha terbiasa kembali menggunakan tangan kanan, saat SMA. Ya walaupun kadang masih suka pakai tangan kiri.
Makanya gue di julukin kidal pasif. Di bilang kidal juga bukan. Karena tangan kanan gue normal juga. Cuma sampai sekarang gue kalau sikat gigi bisanya kiri, sudah tidak bisa kanan lagi. Kadang, kelupaan juga makan sendoknya di sebelah kiri. Jadi sebenarnya, gue gak kidal.
Gue menggunakan tangan kiri karena pernah kidal. Ini hanya sewaktu waktu aja. Sejalan dari otak guenya aja merespon sesuatu menggunakan tangan ini. Kadang gue menggunakan kanan, kadang menggunakan kiri. Dan sekarang lebih dominan gue menggunakan tangan kanan. Jadiiii gituuu.. Gue gak kidal. Gue normal kanan, pasif di kiri.
Terima kasih, yang sudah membaca blog cerita gue pernah menjadi anak kidal. Sebuah cerita lalu yang bersifat informasi kehidupan gue yang ga penting ini.
Maaf bila ada salah kata dan lain hal yang bersifat typo. Enjoy reading.
Salam,
Wigis.
Komentar
Posting Komentar